jaehyunetz


“Luk—”

Karina berniat untuk meneriaki sosok Lukman, mantan gebetannya yang tengah duduk bercengkrama bersama seseorang. Namun, teriakan Karina masuk kembali ke dalam tenggorokannya, tat kala dirinya menyadari bahwa seseorang yang tengah bercengkrama dengan Lukman itu adalah Barra. Karina menggigit bibir bawahnya, otak gadis itu berpikir keras, haruskah dia menghampiri Lukman dan mengambil tas pesanannya, atau kembali ke gedung Fakultas Hukum setelah kurang lebih sepuluh menit dia berjalan dari gedung FH ke gedung Fakultas Ilmu Komunikasi dengan kondisi cuaca yang sangat panas.

Sebenarnya, tidak masalah sih Karina datang dan menghampiri Lukman meskipun disana ada Barra. Tapi entah kenapa, mengetahui fakta bahwa Barra sudah memiliki kekasih membuat Karina rasanya malas untuk bertemu dengan lelaki itu. Karina tidak dengan cepat mengambil kesimpulan bahwa sikapnya yang seperti ini adalah karena dirinya sudah terpikat oleh karisma yang dimiliki Barra. Tidak sama sekali. Dia hanya merasa agak malas saja mungkin.

Setelah berpikir panjang kurang lebih satu menit, Karina memutuskan untuk kembali ke gedung Fakultas Hukum. Gadis itu berbalik, hendak berjalan meninggalkan kawasan gedung Fakultas Ilmu Komunikasi, namun baru juga beberapa langkah, suara bariton Lukman meneriaki namanya. Karina memejamkan matanya kesal. Wajahnya Karina jelas terlihat malas dan tidak ingin menghampiri Lukman, namun lelaki itu memanggil namanya, mau tidak mau Karina berbalik, dan matanya menangkap pemandangan Lukman yang sudah berdiri dari duduknya seraya melambai-lambaikan tangannya kepada Karina—memberi tanda bahwa Lukman lah yang memanggilnya. Sementara Barra, pria itu juga sama berdiri dari duduknya seraya menatap lurus ke arah Karina, dengan senyuman cool yang pria itu berikan kepada Karina.

Karina menghela nafasnya panjang. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju Lukman dan Barra. Sesampainya Karina di hadapan dua laki-laki jangkung itu, membuat dirinya awkward sendiri, terutama dengan Barra. Karina tidak berani untuk sekadar melihat wajah Barra, dia tidak mengerti akan dirinya sendiri, kenapa dia bersikap seaneh ini?

“Bang, pokoknya makasih banget buat saran yang lo kasih ke gue tadi. That means so much to me.” ujar Lukman seraya menepuk pundak Barra. Melihat itu, dapat Karina tebak kalau Lukman memang berteman dekat dengan Barra.

Barra mengangguk sambil tersenyum sederhana yang justru malah menambah kadar ketampanan lelaki itu. Karina semakin tidak sanggup dan tidak ingin melihat wajah Barra,

“Sama-sama.” ucap Barra, lalu mata pria itu mencuri-curi pandang untuk menatap Karina yang sedari tadi matanya bergerak kesana kemari, mencoba untuk menghindarian kontak mata dengan Barra.

Sorry banget nih bang, kayaknya gue harus cabut dulu, soalnya ini cewek gue gak bisa kalau lama-lama, nanti ngamuk.” Karina melotot mendengar perkataan Lukman, apalagi dengan laki-laki itu yang tiba-tiba merangkul bahu Karina. Sialan, batin Karina bergumam. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan mengumpati Lukman di dalam hatinya.

Barra melihat Lukman yang merangkul Karina dengan tatapan tidak suka. Tatapan mata Barra menajam, bak sebilah belati yang siap untuk memotong tangan Lukman agar tidak seenak jidatnya merangkul bahu Karina. Namun, Barra tidak dapat melakukan apapun, dia hanya bisa diam, sembari tangannya mengepal menyalurkan rasa kesalnya. Sedetik kemudian, Barra tetap memberikan senyumannya—yang terkesan terpaksa kepada Lukman,

“Oh iya, have fun sama cewek lu ya.” entah kenapa Karina merasa seperti Barra menekankan suaranya ketika dia menyebut kata have fun dan cewek lu ya. Entah memang dia benar menekankan suaranya, atau hanya Karina saja yang menyadari itu.

Setelah itu, Lukman membawa Karina pergi dari tempat tersebut. Beberapa kali, Karina mencoba untuk melihat ke belakang, dia berniat untuk memberikan salam perpisahan dengan Barra, namun yang nampak adalah Barra yang tengah berjalan pergi entah kemana. Karina tersenyum getir, mungkin lain kali, Karina bisa menyapa dan berpamitan dengan lebih baik kepada Barra.

Lukman membawa Karina pergi ke parkiran mahasiswa yang ada di gedung Fakultas Ilmu Komunikasi, untuk mengambil tas titipan Karina yang Lukman taruh di mobilnya. Tas itu harganya sepuluh juta, belinya pun di Milan, Italia, jadi, Lukman harus menyimpan tas mahal dan bermerk tersebut di tempat yang baik. Dan, mobilnya sendiri adalah pilihan yang tepat.

Sesampainya di mobil Lukman. Karina buru-buru melepaskan tangan Lukman dari bahunya, menggunakan tangannya sendiri dengan kasar. Lukman sudah biasa diperlakukan kasar seperti ini oleh Karina, jadi dia tidak marah sama sekali. Lelaki itu malah tertawa, membuat kekesalan Karina terhadapnya semakin membuncah,

“Ngapain lo ketawa!?” kesal Karina melihat Lukman yang tertawa.

“Lucu lo kalau lagi kesel.” bukannya merasa bersalah atau bagaimana, Lukman malah mengejek Karina, semakin kesal Karina dibuatnya.

“Eh sumpah ya! Gue gak suka lo kayak tadi bilang gue cewek lo, terus rangkul-rangkul gue. Emang laki gak ada otaknya ya lu. Minta gue jadiin orak arik daging.” omel Karina.

“Orak arik daging gak ada, adanya orak arik tempe kali.” ejek Lukman.

“NGEJAWAB AJA LU!”

“Ya elu ngamuk ngamuk aja, gak bakal gue kasih nih tasnya.”

“Ya udah, terserah, nanti gue laporin lo ke kantor polisi, atas pasal penipuan!” ancam Karina yang jelas saja tidak serius. Karena dia tahu, Lukman hanya sedang bercanda saja, jadi Karina juga tidak benar-benar serius menanggapi ucapan lelaki itu. Namun tetap saja, rasa kesal Karina kepada Lukman nyata adanya.

“Duh ileh, emang dasar anak hukum ye, dikit dikit lapor polisi.” Lukman menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari pria itu membuka bagasi mobilnya, dan mengambil tas pesanan Karina yang masih terbungkus rapih dengan paper bag bertuliskan Gucci tersebut, “nih tas lu!”

Lukman memberikan tas tersebut kepada Karina. Senyum Karina merekah, moodnya yang tadi hancur, seketika naik kembali karena tas yang sudah lama ia idam-idamkan bisa datang ke pelukannya juga. Butuh waktu 2 bulan untuk Karina bisa menabung dan membeli tas yang harganya belasan juta ini,

“Seneng lu?” tanya Lukman sedikit sarkas, melihat Karina yang beberapa menit lalu terlihat kesal dan mengomeli Lukman, lalu sekarang tersenyum senang karena tas mahal itu.

Karina mengangguk, “ya iyalah gila, lu gak tau aja gimana gue pingin banget beli tas ini, gue nabung sampai dua bulan asal lo tau aja!”

“Gak mau tau juga sih gue sebenernya.” ucapan Lukman itu langsung dihadiahi pelototan sinis dari Karina, “nah nah kan mau ngomel lagi kan pasti.”

Karina menggelengkan kepalanya seraya menunjukan bread smilenya yang menggemaskan. Mati-matian Lukman menahan hatinya untuk tidak jatuh ke pelukan gadis ini lagi, karena dia sudah memiliki kekasih sekarang. Tapi, pesona Karina yang seperti rubah—maksudnya dia bisa menjadi imut, dan tangguh, juga sexy secara bersamaan, membuat Lukman jatuh cinta kepada gadis ini,

“Gak kok, gue gak bakal marah-marah, soalnya lo udah bawain tas gue sooooo, thank you ya! Thank you banget!”

“Cium dulu dong kalau gitu.” goda Lukman sambil menaik turunkan alisnya.

Karina meludahi Lukman secara pura-pura. Lukman hanya mampu tertawa seraya tangannya mengacak-acak rambut Karina, membuat gadis itu merengek protes karena rambutnya yang sudah ia tata rapih jadi berantakan karena tangan besar Lukman,

“Jadi berantakan kan rambut gue!” omel Karina, Lukman hanya tertawa, kedua tangannya berinisiatif untuk membenarkan rambut Karina yang ia acak-acak.

Mungkin dulu, disaat Karina masih menaruh hati kepada Lukman, gadis itu akan sangat berbunga-bunga dan salah tingkah apabila di perlakukan seperti ini. Namun sekarang, semuanya sudah terasa biasa saja. Tidak ada getaran yang dulu Karina rasakan setiap ia melihat Lukman. Baginya, Lukman hanyalah masa lalu Karina yang membuat Karina tersadar bahwa, cinta pertama itu tidak selalu berakhir indah.

Tanpa sadar, ada seseorang di sebrang sana yang memperhatikan gerak-gerik Lukman juga Karina dari beberapa menit yang lalu, sembari orang itu menggertakan giginya, betapa kesalnya hati orang itu melihat bagaimana Karina dan Lukman yang berinteraksi dengan begitu romantisnya,

“Lo ngapain sih?”

“Anj—”

Orang yang mengintipi Lukman dan Karina itu hampir saja berteriak karena seseorang menepuk pundaknya dengan begitu keras. Dia berbalik, dan langsung menarik kerah orang yang menepuk pundaknya tersebut dan menyeretnya ke tempat lain yang lebih jauh dari tempat persembunyiannya,

“Apaan sih lu!” kesal pria tersebut sembari melepaskan paksa tangan sang empu dari kerahnya menggunakan tubuhnya sendiri, “lu ngapain sih Barra ngintip-ngintip kayak tadi? Ngeliatin apaan coba gue tanya!?”

Ya, si pelaku intip itu ternyata adalah Barra.

Bagaimana bisa? Jadi, ketika Karina dan Lukman sudah pergi, Barra pura-pura pergi juga, dia jalan sejauh mungkin, nah lalu, setelah itu Barra kembali ke tempat asal pertemuan mereka, dia melihat Lukman dan Karina yang berjalan dengan jarak yang sudah lumayan agak jauh. Maka dari itu, Barra langsung mengikuti keduanya dengan perlahan-lahan, seolah-olah dia tengah masuk ke dalam rumah yang isinya adalah berlian, dan Barra hendak mencuri berlian-berlian tersebut,

“Gue lagi ngeliatin si Lukman tadi sama cewek. Lu liat gak?” kesal Barra, misinya untuk mengintipi dua manusia itu gagal karena salah satu temannya yang rese menghancurkam segalanya.

“Ngapain anjir lu liatin si Lukman? Demen lu sama dia? Perasaan di GC semalem lu bilang lu demen Karina, sekarang lu malah demen sama yang berbatang. Kamuflase aja ya kelakuan lo ini?”

“Sialan lo, Dimas!” umpat Barra tepat di depan wajah Dimas, sahabatnya, “iya itu, Lukman tuh tadi lagi sama Karina. Gue mantau mereka, soalnya mereka mesra banget. Gagal gara gara elu sialan!” Barra tetap terus menyalahkan Dimas.

“Ya sorry gue kan gak tau. Lagian lo juga gue cariin, di tungguin noh sama dosbim lu, mau ngomongin soal sempro. Nelfonin gue dari tadi.”

“Alah sempro lagi sempro lagi ngentot, niat gue mau ngintilin Lukman sama Karina gagal dah.”

“Ngapain ngintilin gue bang?”

Suara milik Lukman dari arah belakang, langsung mengejutkan Dimas dan Barra. Dua lelaki itu dengan bebarengan berbalik ke belakang, melihat tubuh jangkung Lukman yang sudah berdiri disana sembari menatap dua kakak tingkatnya itu,

“Lu dari kapan di belakang kita berdua?” tanya Barra panik.

“Pas lu ditarik sama Bang Dimas, terus Karina pamit balik ke gedung FH, gue langsung nyusulin kalian berdua.” jawab Lukman dengan santai, meanwhile Barra sudah ketar-ketir karena rencananya tercium oleh Lukman.

Dimas sebenarnya ingin tertawa, namun, dia mencoba untuk menahan tawanya. Dia menghargai Lukman sang sahabat yang gagal menjalankan rencananya untuk memata-matai Lukman dan Karina,

“Lo tau?” Barra bertanya dengan ragu. Sebenarnya pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban, karena sudah jelas dan pasti, Barra tahu jawaban atas pertanyaannya sendiri itu.

Lukman mengangguk seraya tersenyum,

“Gue tau lu ngintilin gue sama Karina bang.” jawab Lukman, “gue juga bisa ngeliat dari tatapan mata lo yang kayaknya naruh perasaan lebih ke Karina.”

Barra terdiam,

“Tenang bang, gue sama Karina cuman temen doang. Ya, walaupun gue masih kadang deg-degan kalau liat dia, tapi don't worry, gue udah gak minat untuk macarin dia, karena gue juga udah ada cewe.” Lukman bicara lagi.

Dan, Barra masih setia dengan diamnya. Begitu pun dengan Dimas,

“Tapi bang, saran gue, selesain dulu hubungan lo sama Kak Anin, baru habis itu, kejar Karina. Soalnya sayang kalau sesempurna Karina harus dijadiin selingkuhan.”

Setelah bicara seperti itu, Lukman dengan santainya berbalik untuk pergi kembali menuju mobilnya yang masih terparkir di parkiran khusus mahasiswa, lalu pulang ke apartemennya dan beristirahat, sebelum nanti malam, dia pergi menemui kekasihnya. Sementara, Barra dan Dimas masih diam di tempat mereka. Begitu, Lukman pergi, Dimas langsung menepuk pundak Barra dengan lumayan keras, membuat Barra tersadar dari lamunannya dan menatap Dimas disampingnya dengan kesal,

“Denger, selesain dulu sama Anin, baru sama cewek lain.” sindir Dimas langsung. Laki-laki itu langsung pergi meninggalkan Barra.

Sementara Barra hanya menghela nafasnya kasar. Ya dia tahu betul bahwa dirinya juga harus mengakhiri hubungannya dengan Anindira terlebih dahulu sebelum mulai melakukan pendekatan dengan Karina. Tapi, bagaimana caranya? Bagaimana caranya dia mengakhiri hubungannya dengan Anindira? Bagaimana dia meminta kedua orang tuanya berbicara kepada kedua orang tua Anindira untuk membatalkan perjodohan ini?


Apa yang dilihat orang di depan layar, belum tentu sama dengan yang terjadi di belakang layar.

Kira-kira pepatah seperti itu lah yang pas menggambarkan hubungan Barra dan kekasihnya Anindira saat ini.

Banyak sekali beberapa perempuan diluaran sana yang menuntut pacar mereka untuk menjadi seperti sosok Barra yang dilihat sebagai seorang lelaki yang penyayang dan selalu memberikan suprise tak terduga untuk kekasihnya, Anindira.

Padahal pada kenyataannya, Barra tidak seperti itu. Apa yang dilakukan Barra kepada Anindira hanyalah sebuah keterpaksaan saja. Hubungan Barra dan Anindira hadir bukan karena sebuah ketulusan cinta, melainkan hadir karena sebuah perjanjian konyol yang dibuat oleh mendiang kakek mereka berdua di masa lalu.

Sesungguhnya, tidak pernah sedikit pun Barra menaruh hati kepada Anindira. Berbeda dengan Anindira, gadis itu benar-benar mencintai Barra, sampai dia selalu membicarakan Barra ke semua teman-temannya, membanggakan laki-laki itu, membuat semua orang berpikir kalau Barra begitu mencintai Anindira.

Seharusnya, yang dijodohkan itu adalah ayah dari Barra dan juga ibu dari Anindira. Namun, mereka berdua menolak, karena saat itu, ayah Barra sudah melamar ibunda Barra, dan ibu Anindira juga tengah mengandung Anindira—Anindira adalah hasil dari hubungan terlarang ibu dan ayahnya. Karena itulah, kakek Barra dan juga kakek Anindira membatalkan perjodohan tersebut, dan malah menjodohkan Barra dan juga Anindira.

Muak? Jelas, Barra sangatlah muak dengan semua kepalsuan yang dia buat. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua adalah wasiat dari kakeknya, Barra merupakan cucu kesayangan kakeknya, dan kakeknya sangat mengandalkan Barra. Jadi, Barra memiliki tanggung jawab yang besar akan hal itu, makanya dia tidak bisa memutuskan atau menolak perjodohan ini,

“Barra! Barra!” suara cempreng milik Anindira menyadarkan Barra dari lamunannya. Barra buru-buru menatap Anindira dengan tatapan polosnya.

“Hah? Kenapa?”

Dapat Barra lihat kekasihnya itu mendecakan lidahnya dan memutar bola matanya malas, “kamu dengerin ngga sih dari tadi aku cerita?” Anindira bertanya dengan nada dan ekspresi wajah yang terlihat sangat kesal.

“Denger.” jawab Barra, walaupun sebenarnya dia tidak sama sekali mendengarkan apa yang Anindira ceritaka. Pria itu sibuk memikirkan perjodohan sialan yang membuat hidupnya tersiksa ini.

“Apa, aku cerita apa coba?”

“Kamu kalau mau tebak-tebakan gini mending matiin aja deh. Aku mau tidur aja, besok kuliah pagi soalnya.” ini adalah jurus jitu bagi Barra untuk terhindar dari pertanyaan Anindira yang sudah jelas tidak bisa Barra jawab, karena Barra sendiri tidak tahu apa yang Anindira ceritakan.

“Tuh kan, kamu gak dengerin aku cerita.” Anindira protes sembari mengerucutkan bibirnya. Kalau Gista melihat ini, perempuan itu pasti tidak akan berhenti menghujat Anindira.

“Aku dengerin kok, di dengerin sama aku tadi. Aku kan ngelamun juga sambil dengerin cerita kamu. Udah nggak usah ngambek gitu.” ucap Barra dengan lembut, ia menatap Anindira melalui kameranya dengan tatapan yang juga lembut dan teduh.

Melihat itu, Anindira pun luluh. Rasa kesalnya kepada Barra seketika hilang. Ia suka ketika Barra bersikap lembut kepadanya. Kemudian, ide gila muncul di otak Anindira, gadis itu seperti sengaja memajukan tubuhnya ke kamera, dan memperlihatkan belahan dadanya. Yang jelas hal itu dinotice oleh Barra.

Sebagai laki-laki normal, meskipun tidak mencintai Anindira, sisi liar Barra terpanggil melihat tindakan Anindira itu. Namun, Barra buru-buru menepis hal tersebut. Dia tidak ingin merugikan dirinya sendiri dengan melakukan hal yang tidak-tidak,

“Itu kamu tidur pake baju yang bener coba, nanti masuk angin.” titah Barra.

Anindira merengut sebal. Niatnya untuk menggoda Barra malah sama sekali tidak dianggap oleh lelaki itu. Padahal biasanya laki-laki diluar sana akan langsung “paham” apabila kekasih mereka memancing mereka. Tapi Barra malah sebaliknya,

“Bar, do you love me?”

“Aku suruh ganti baju malah nanya-nanya hal yang gak penting.”

Emosi Anindira tersulut,

“Gak penting kamu bilang!? Urusan cinta itu gak penting. Kamu sinting apa gimana?”

“Apa sih Nin.” demi Tuhan, Barra jengah. Dia ingin mematikan sambungan video call ini. Seseorang tolong Barra sekarang.

“Apasih apasih, kamu kenapa sih? Kamu aku tanya kamu cinta sama aku, malah kamu bilang aku nanyain hal yang gak penting.” kesal Anindira.

Barra mendecakan lidahnya sebal, “apa dengan aku terima perjodohan ini, terus pacaran sama kamu, itu bikin kamu masih ragu sama perasaan cinta aku ke kamu? Iya? Kalau gitu, selesain aja semuanya. Aku juga gak suka dituduh-tuduh kayak barusan.” kali ini Barra benar-benar marah, dan dia sudah tidak dapat menahan emosinya lagi.

Jujur, putus dengan Barra adalah mimpi buruk bagi Anindira. Gadis itu begitu mencintai Barra, sampai rasanya dia ingin egosi, dia ingin terus memiliki Barra. Maka dari itu, meskipun dia masih sangat kesal dengan Barra, tapi Anindira memutuskan untuk mengalah. Dia akan menurunkan egonya, demi keutuhan hubungan mereka,

“Aku minta maaf, Bar.” begitu mudahnya Barra membuat Anindira mengucapkan kata maaf. Padahal gadis itu paling anti meminta maaf kepada seseorang yang dia sakiti baik disengaja maupun tidak disengaja.

“Iya.” jawab Barra singkat, “aku matiin ya, udah ngantuk, besok kuliah pagi soalnya.”

“Kamu udah maafin aku kan?” Anindira memastikan, karena gadis itu merasa Barra masih marah kepadanya, dan belum memaafkannya.

“Iya aku maafin. Udah ah aku matiin ini video callnya, ngantuk aku gak kuat.”

“Besok berangkat bareng kayak biasa ya?”

“Hm.”

“Oke deh kalau gitu. Dadah sayangggg! Mimpi yang indah ya, i love you!”

Tanpa berniat menjawab, Barra langsung mematikan sambungan video call tersebut. Masa bodoh dengan reaksi Anindira di rumahnya sana, Barra sudah keburu tidak mood. Lelaki itu memilih untuk menidurkan dirinya di ranjang empuk kamar tamu yang ada di rumah Gista.

Dalam hatinya, Barra berharap dia bisa memimpikan Karina malam ini.


“Nyari siapa?”

Seorang pria yang umurnya beberapa tahun lebih tua dari Karina bertanya kepada gadis itu setelah ia membukakan pintu rumah Gista untuknya. Lelaki itu cukup tampan (Karina tidak mau munafik), belum lagi wangi parfum maskulinnya yang membuat perempuan manapun hanyut (termasuk Karina). Karina akui dirinya sempat terpana beberapa detik, mengagumi kesempurnaan laki-laki yang merupakan kakak sepupu dari Gista ini.

Namun, Karina bisa untuk mengontrol dirinya, awal tujuan dia datang kesini adalah untuk memberikan oleh-oleh kepada Gista dari ibunya. Gadis itu buru-buru membuang jauh-jauh pikiran anehnya, dan kembali bersikap biasa saja, seolah-olah lelaki dihadapannya ini tidak menarik baginya,

“Nyari Gista.” Karina menjawab dengan suara yang seramah mungkin. Tidak, tolong jangan salah sangka, Karina kalau berbicara dengan orang yang belum dikenalnya selalu dengan nada yang ramah dan lembut. Jadi, tidak ada maksud lain.

“Oh, Gista, duh, Gistanya lagi enggak ada, dia lagi nginep di apartemen pacarnya.” padahal, tanpa perlu lelaki itu bilang, Karina sudah tahu dimana Gista sekarang, “by the way, temennya Gista, ya?”

Karina menganggukan kepalanya pelan sembari tersenyum tipis. Senyuman yang mampu membuat hati siapapun terpana melihatnya,

“Oh ya udah gak apa-apa, paling cuman mau nitip oleh-oleh aja buat Gista.”

“Oh ya udah boleh.”

Lalu kemudian, Karina melepaskan tas ransel yang dibawanya, dan memberikannya kepada pria di depannya ini. Dia cukup terkejut ketika Karina tiba-tiba memberikan tasnya yang sangat berat itu. Tubuhnya bahkan hampir jatuh sangking beratnya tas itu. Untung massa otot pria itu lebih besar, jadi dia bisa menahan bobot tubuhnya agar tidak tersungkur ke lantai,

“Ini isinya oleh-oleh apa bom? Berat banget.” candaan pria itu berhasil membuat Karina tertawa pelan. Siapapun pasti akan terheran-heran ketika membawa tas ransel milik Karina yang berisikan buah tangan khas Jakarta yang banyak itu.

“Oleh-oleh kok, tenang aja, enggak ada bom sama sekali. Emang sengaja beli banyak buat Gista.” jelas Karina.

Akhirnya dia dapat bernafas lega sekarang, bahunya sudah terasa ringan tidak seperti saat dirinya tiba di stasiun Bandung. Bahunya benar-benar terasa berat, sangking beratnya dia sampai berpikir kalau dia membawa oleh-oleh sembari menggendong seorang tuyul di bahunya,

“Sebentar ya, ini disimpen di dalem dulu berat soalnya.” pamit lelaki itu, Karina menganggukan kepalanya, memberi izin. Dia pergi meninggalkan Karina, namun belum ada 3 langkah, lelaki itu kembali, membuat Karina kebingungan, “mau masuk ke dalem?”

Karina menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala, lagi dan lagi, disertai senyuman tipis yang mematikan, “gak usah, nunggu disini aja.” tolak Karina dengan sopan.

“Oke kalau gitu.”

Kemudian, lelaki itu masuk kembali ke dalam rumah Gista, untuk menaruh tas ransel berisi oleh-oleh itu. Dan, tidak lama kemudian, dia kembali lagi untuk menemui Karina yang masih setia berdiri di depan pintu,

“Udah disimpen oleh-olehnya di tempat yang aman.” ucapnya dibarengi dengan kekehan sederhana yang membuat Karina tersenyum kecil, “by the way, kita belum kenalan. Nama gue Barra, kakak sepupunya Gista.” lanjutnya, seraya mengulurkan tangannya ke arah Karina.

Karina menerima uluran tangan tersebut, lalu menyebut namanya, “Karina.” kemudian, dia langsung melepaskan jabatan tangan tersebut.

Karina melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukan angka sepuluh malam, itu artinya malam sudah semakin larut, dan Karina harus buru-buru pulang ke apartemennya, dikarenakan besok dia harus kuliah jam setengah tujuh pagi,

“Gue pamit pulang dulu ya, udah jam sepuluh soalnya.” pamit Karina kepada Barra.

“Eh, pulang naik apa? Emang bawa mobil kesini?” Barra bertanya.

Karina menggeleng sebagai jawaban, “gue tadi kesini naik indrive sih, jadi ya paling balik naik indrive lagi aja.”

Sebagai seorang pria sejati, Barra jelas tidak akan membiarkan begitu saja seorang perempuan pulang sendirian di waktu malam, apalagi perempuannya itu secantik Karina,

“Jangan pulang naik ojol udah malem begini, Bandung bahaya soalnya suka banyak kasus begal. Mending gue anterin aja.”

“Eh ga usah.” Karina menolak dengan halus, “beneran, gue udah biasa kok naik ojol malem-malem.”

Barra tetap keukeuh ingin mengantarkan Karina pulang. Bukan hanya sekedar modus, tapi dia juga khawatir hal yang tidak diinginkan terjadi kepada Karina,

“Gue tetep anterin.” Barra melanjutkan ucapannya, “sorry terkesan kayak maksa tapi ini demi keselamatan lu sebagai perempuan.”

“Tapi—” Karina tidak melanjutkan ucapannya, karena buru-buru dipotong oleh Barra.

“Sebentar, gue ambil kunci mobil gue dulu. Lu tunggu disini, jangan kabur, oke.”

Karina menghela nafasnya pasrah. Pada akhirnya, dia harus pulang bersama laki-laki yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. Tapi, ya sudah, tidak masalah, lagipula apa yang diucapkan oleh Barra benar juga. Karina sering membaca berita-berita soal pembegalan yang terjadi di Kota Bandung. Jadi, demi keselamatan diri sendiri, apa salahnya kalau dia menerima tawaran Barra.

Tidak lama kemudian, Barra kembali dengan kunci mobil yang sudah ada di genggamannya. Lelaki itu entah untuk alasan apa memberikan senyuman manis kepada Karina, yang membuat Karina sedikit salah tingkah dan mendadak gugup. Sebelum mereka pergi, Barra terlebih dahulu mengunci rumah Gista agar aman,

“Lo emang tinggal bareng Gista ya?” Karina bertanya seraya berjalan berdampingan dengan Barra menuju garasi mobil rumah Gista.

“Enggak, gue disini karena disuruh nyokap bokapnya Gista buat jagain dia, eh tapi anaknya malah nginep di apartemen pacarnya.” jawab Barra sambil tertawa, Karina juga ikut tertawa pelan.

Dari kejauhan, Barra sudah membuka pintu mobilnya menggunakan alarm dari kunci mobilnya. Jadi, Barra langsung membukakan pintu mobil untuk Karina. Sang empu terkejut ketika Barra melakukan hal ini kepadanya. Karena demi apapun, belum pernah ada seseorang lawan jenis yang membukakan pintu untuk Karina seperti ini. Bahkan ayahnya sendiri pun tidak pernah melakukan ini Maka dari itu untuk beberapa saat Karina diam tidak bergeming sama sekali,

“Lo mau nginep disini kah?” ucapan Barra itu langsung menyadarkan Karina dari lamunannya.

“Hah, apa? Ada apa?” Karina malah balik bertanya, hal tersebut mengundang tawa pelan kepada Barra. Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis dihadapannya ini selain cantik, menggemaskan juga ternyata.

“Lo dari tadi diem aja, mau nginep disini apa gimana? Kalau mau gue siapin kamarnya nanti.”

“Hah, ya engga lah, gue mau pulang. Apartemen gue udah ditinggalin tiga hari, ya kali gue nginep disini.” Karina kalau sedang salting, tiba-tiba bisa menjadi sewot seperti ini. Barra terkejut tentunya, tapi sedetik kemudian insting prianya langsung berjalan, dia dapat menebak kalau Karina tengah salah tingkah sekarang. Maka dari itu, sang adam hanya menyunggingkan senyuman tipisnya.

Buru-buru Karina masuk ke dalam mobil. Duduk di sebelah bangku pengemudi di depan. Tidak lama, Barra juga masuk ke dalam mobilnya. Dia mengunci pintu, lalu menggunakan safety belt, tidak lupa Barra juga mengingatkan Karina untuk menggunakan safety beltnya itu. Safety belt sudah dipasang oleh keduanya, berikutnya, Barra menyalakan mesin mobilnya. Lalu, dia menjalankan mobilnya menuju apartemen Karina.


Kondisi mobil benar-benar hening, tidak ada obrolan sama sekali diantara Karina dan Barra. Yang terdengar hanya lagu milik MAX feat Keshi yang berjudul IT'S YOU lewat radio tape yang ada di dalam mobil ini. Karina sangat amat menyukai lagu ini, disaat dirinya mengalami hari yang berat, atau sedang dalam kondisi stress pasti lagu ini yang akan dia putar, sampai dirinya tertidur.

Tanpa sadar, Karina bersenandung mengikuti nada dari lagu kesukaannya itu. Barra yang tengah menyetir pun, langsung mengalihkan fokusnya kepada Karina. Pria itu menoleh sekilas ke arah Karina, yang tengah humming sambil melihat ke arah jendela. Diam-diam, pria itu tersenyum. Mendengar suara humming Karina entah kenapa membuatnya senang, mungkin karena suara humming gadis itu yang terdengar sangat merdu,

“Suka sama lagu ini kayaknya.” tebak Barra yang sudah kembali fokus melihat jalanan.

Karina langsung berhenti bersenandung, dan ia menolehkan kepalanya ke arah Barra. Gadis itu tertawa pelan seraya menganggukan kepalanya,

“Suka banget.” jawab Karina, “nadanya itu calm, bikin kalau hari lagi berat banget terus dengerin lagu ini kayak bakal langsung enteng gitu harinya, terus juga kalau lagi stress bisa langsung seneng lagi.”

“Gitu ya?” Barra bertanya seraya terkekeh pelan.

“Iya.” jawab Karina dengan penuh kepercayaan diri yang sangat tinggi.

“Ya udah deh, gue cobain nanti. Soalnya mahasiswa tingkat akhir lagi stress-stressnya mikirin skripsi.”

“Nah boleh dicoba tuh kak.”

“Tapi emang lo suka genre musik yang kayak gimana sih, Rin?” Barra bertanya seraya membelokkan strinya ke arah kanan.

Karina tampak berpikir, “hmmmm…. banyak sih, depends on mood juga, tapi akhir-akhir ini lagi suka dengerin lagu RnB, blues, sama jazz gitu. Terus lagu-lagu mozart.”

Mozart?” Barra mengulang ucapan Karina, gadis itu menganggukan kepalanya dengan semangat, “wah, gue pernah tuh dimarahin sama nyokap, disuruh bersih-bersih rumah, terus gue bersih-bersihnya sambil dengerin lagu-lagu mozart, demi apapun berasa lagi bersihin rumahnya Napoleon Bonaparte.”

Karina tertawa mendengar ucapan Barra.

Tawanya tidak terlalu kencang, namun terdengar begitu manis di telinga Barra. Laki-laki itu tidak bisa mengatur degup jantungnya setiap kali melihat Karina tersenyum, dan sekarang Karina tertawa karena ucapannya. Apa Barra tidak berakhir gila? Dia seperti benar-benar lupa kalau dia sudah memiliki kekasih,

“Napoleon Bonaparte kenapa sih astaga.” Karina menyeka sudut matanya yang basah akibat terlalu semangat tertawa.

“Beneran. Cobain aja.”

“Oke, nanti dicobain.”

Lalu, keadaan mobil pun tidak sedingin awal. Banyak sekali percakapan yang kini menghiasi mobil tersebut. Bahkan, mereka berdua sampai tidak sadar kalau lagu sudah dua kali berganti sangking asyiknya mereka bercengkrama.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh lima menit, sampailah mobil Barra di kawasan apartemen Karina, yang masih begitu ramai dimasuki oleh para residen, meskipun waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam.

Karina melepaskan safety beltnya. Dia sudah bersiap untuk turun dari mobil Barra,

“Kak, thank you banget udah nganterin gue pulang.” ucap Karina dengan tulus. Barra menganggukan kepalanya sembari tersenyum, “kalau gitu gue turun ya kak.”

“Iya.” Barra kemudian melanjutkan, “langsung tidur ya, Rin, gak baik begadang soalnya.”

“Hahahaha siap!”

Setelah itu, Karina turun dari dalam mobilnya. Sebelum masuk ke dalam lobby apartemennya, Karina melambaikan tangannya terlebih dahulu kepada Barra. Lelaki itu pun membalas lambaian tangan Karina. Lalu, kemudian, Karina masuk ke dalam lobby apartemennya, dan bersamaan dengan itu, Barra pun menjalankan mobilnya untuk pulang kembali ke rumah Gista.


Minuman keras atau biasa disebut juga dengan miras (bahasa kerennya adalah alkohol) sudah bukan lagi menjadi hal yang tabu bagi sebagian masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa. Contohnya adalah Barra, Johnny, dan Dimas. Ketiga mahasiswa tingkat akhir ini, termasuk ke dalam mahasiswa-mahasiswa yang selalu meminum minuman keras.

Kalau ditanya alasannya untuk apa mereka meminum minuman keras, pasti mereka akan menjawab untuk menghilangkan stress. Ya, memang betul, efek dari minuman beralkohol itu membuat kita seakan-akan melayang diatas udara, dan kita seperti sengaja dibuat lupa akan masalah-masalah yang tengah kita hadapi.

Seperti Johnny contohnya, tadi, saat pertama kali sampai di club malam milik pamannya ini. Wajahnya begitu terlihat seperti wajah-wajah orang yang tengah menanggung banyak masalah. Tapi, setelah dia meminum beberapa gelas alkohol, kini wajah Johnny terlihat biasa-biasa saja, justru dia terlihat begitu bahagia, sembari ditemani dengan perempuan berbaju sexy yang duduk disampingnya sambil bersender manja ke tubuh besar lelaki itu.

Tidak hanya Johnny yang minum sambil ditemani dengan seorang perempuan. Barra pun sama. Dia malah lebih parah. Lelaki itu minum ditemani dengan dua orang perempuan, yang satu bergelayut manja di tangan Barra, dan yang satu lagi duduk di pangkuan Barra. Dia asyik bermesraan dengan dua perempuan penghibur sampai Barra lupa, kalau dia memiliki kekasih yang seharusnya ia jaga hatinya dengan tidak melakukan hal-hal seperti ini.

Dimas tidak separah Johnny dan Barra. Lelaki itu meskipun dalam keadaan mabuk, tapi dia masih bisa mengontrol dirinya untuk tidak didekati atau disentuh-sentuh oleh perempuan-perempuan manapun yang ada di dalam club malam ini. Dimas sungguh menjaga hati kekasihnya yang sekarang tengah menimba ilmu di negeri Paman Sam sana,

“Kamu cantik banget.” Barra memuji gadis penghibur yang bergelayut manja dilengannya, sembari tangannya membenarkan poni yang menghalangi wajah cantik yang penuh akan dempul milik gadis itu, “namanya siapa, hm?” meskipun suara Barra suara khas-khas orang mabuk, namun entah kenapa tetap terdengar sexy.

“Winda.” jawab perempuan itu sambil tersenyum manis, dan matanya yang menatap Barra dengan tatapan tajam penuh nafsu.

Semua perempuan yang melihat Barra, pasti akan terobsesi dengan laki-laki itu. Jadi, rasanya wajar apabila wanita bernama Winda itu menatap Barra dengan tatapan yang sarat akan nafsu,

“Kenapa cuman dia aja yang ditanya? Aku enggak ditanya?” perempuan yang duduk di pangkuan Barra protes.

Barra tertawa, lalu tangannya ia biarkan melingkar di pinggang ramping gadis blonde itu,

“Iya maaf, kamu namanya siapa?” Barra kemudian bertanya sambil mata telernya menatap mata wanita yang berada dipangkuannya ini.

“Nama aku Rosa.” katanya, moodnya langsung berubah ketika Barra menanyakan namanya.

“Namanya cantik, sama kayak orangnya.” goda Barra, sembari melayangkan kecupan lembut di pipi gadis itu, yang mana hal itu membuat Winda cemburu.

“Aku juga mau dicium kayak dia.” protes Winda, sembari tangannya menarik-narik kecil lengan Barra.

Barra kemudian memfokuskan dirinya kepada Winda, dan memberikan kecupan yang manis juga di pipi gadis itu yang tirus namun terlihat sedikit chubby. Winda tidak dapat menyembunyikan ekspresi bahagianya setelah mendapatkan ciuman lembut dari Barra.

Johnny juga sibuk dengan wanitanya, kini dua pasangan itu sudah berciuman dengan sangat panas, sambil tangan Johnny yang mengangkat rok mini wanita sewaannya tersebut. Barra yang melihat hal tersebut hanya tertawa, sambil dirinya sibuk mengabadikan moment tersebut.

Melihat hal tersebut membuat Dimas merasa kurang nyaman. Ia malas berdebat, maka dari itu ia memilih untuk turun ke lantai dansa. Tidak, Dimas tidak pergi ke tengah-tengah untuk berjoget ria bersama para pengunjung club lainnya. Dimas hanya diam di pinggir, sembari melihat layar ponselnya yang terpasang foto selfie dirinya bersama kekasihnya sebagai lockscreen.

Kembali kepada Barra, melihat Johnny yang semakin liar bercumbu dengan wanita sewaannya itu, membuat Barra juga ikut terangsang dan ingin melakukan hal tersebut. Tapi, ia tidak mau menyentuh dua perempuan ini diluar batas. Maka dari itu, Barra yang memang sudah tidak tahan meminta untuk Rosa yang duduk dipangkuannya berpindah tempat ke samping Barra, Rosa pun menuruti perintah Barra.

Setelah itu, Barra berdiri dari duduknya, dan berjalan menuju toilet di club ini dengan sempoyongan. Winda dan Rosa terlihat kebingungan karena Barra yang tiba-tiba pergi. Sementara Barra, lelaki itu berjalan sembari satu tangannya memegangi pusat tubuhnya dibawah sana yang sudah sesak dan minta dibebaskan. Mata Barra yang sudah teler itu masih mampu untuk melihat dengan jelas banyaknya pasangan-pasangan yang bercumbu di luar pintu toilet. Hal itu semakin membuat Barra terangsang.

Barra yang sudah tidak tahan lagi, langsung membuka pintu toilet, dan masuk ke dalam salah satu bilik di dalam sana. Di dalam, Barra buru-buru membuka celana dan juga celana dalamnya. Lalu, dia melakukan apa yang harus dia lakukan, sembari otaknya membayangkan seorang perempuan asing yang entah kenapa tiba-tiba terbayang oleh Barra.

Suara lenguhan Barra sudah jelas terdengar sampai keluar. Tapi, Barra tidak perduli, toh, orang-orang disini juga dalam keadaan mabuk, jadi mereka tidak akan terlalu memperdulikan suara desahan Barra, karena mereka juga sibuk dengan aktifitas seksual mereka masing-masing.


Karina menepati janjinya untuk memberikan hadiah kepada Barra berupa cuddle karena laki-laki itu sudah rela datang ke apartemennya jam 2 (dua) pagi.

Sekarang, baik Barra dan Karina, keduanya sudah sama-sama terbaring diatas ranjang empuk milik sang puan. Barra berbaring dengan posisi telentang, sementara Karina berbaring dengan posisi miring. Gadis itu menaruh kepalanya tepat di lekukan lengan Barra,

“Sayang, kamu tau gak? Kemarin yah, di kantorku, ada semut, terus aku tuh kan merhatiin semut itu yah, nah aku mikir gitu kayak, bisa gak sih semut ngantuk?” Karina memang kadang selalu memiliki random thought yang benar-benar diluar nalar. Tidak ada yang bisa Barra lakukan selain tertawa gemas akan pertanyaan Karina itu.

“Kamu mau tau fakta keren tentang semut nggak?” Barra bertanya, Karina menatap Barra dengan penuh semangat sambil menganggukan kepalanya.

Barra tidak mampu lagi menahan rasa gemasnya terhadap sang kekasih. Ia memajukan sedikit wajahnya ke wajah Karina, dan bibirnya mengecup lembut bibir Karina. Sang empu tersenyum dikala-kala ciuman singkat keduanya. Lalu, setelah puas mengecup bibir Karina, Barra melepaskan kecupannya dan lanjut bercerita,

“Jadi, semut itu bisa tidur sebanyak dua ratus lima puluh kali dalam sehari.” ucap Barra.

Karina membulatkan matanya, dia terkejut mengetahui fakta bahwa semut dapat tidur selama ratusan kali dalam sehari. Padahal, setelah kemarin Karina meneliti semut-semut yang dilihatnya di kantor, tidak pernah Karina melihat semut-semut itu tidur,

“Kok bisa sesering itu? Tidurnya berapa lama deh.” heran Karina.

“Tidurnya mereka itu cuman satu menit aja, makanya sering banget kan tidurnya sampai dua ratus lima puluh kali.”

Karina menganggukan kepalanya paham seraya mulutnya membentuk huruf “O”.

Hari ini, dia mendapatkan ilmu baru yang bermanfaat dari kekasihnya. Karina akui, bahwa wawasan Barra itu sangatlah luas. Maklum, hobi kekasihnya itu adalah membaca buku, tak ayal, banyak hal yang tidak Karina ketahui, tapi Barra mengetahuinya,

“Masih belom bisa tidur juga ini bayi gede aku?” suara Barra terdengar seperti lelaki itu tengah memanjakan Karina.

Karina menggelengkan kepalanya sembari memajukan bibirnya kesal. Dia benar-benar ingin istirahat, karena takut besok di kantor dia mengantuk dan bablas tidur, yang akhirnya, Karina bisa terkena omelan dari bosnya yang super duper galak dan disiplin itu,

“Ya udah aku itungin angka mau? Sambil aku puk-pukin kamu?” tawa Barra.

Karina menganggukan kepalanya setuju. Dia percaya kalau cara ini akan berhasil membuatnya mengantuk dan bisa melanjutkan tidur sorenya,

“1…” Barra mulai mengitung sembari menepuk lembut dan pelan bokong Karina.

“2…”

“3…”

“4…”

Barra baru saja hendak menyebutkan angka lima, namun telinganya sudah mendengar suara dengkuran yang lembut dan kecil, yang berasal dari mulut Karina.

Mendengar itu, Barra tidak mampu menyembunyikan senyumannya. Ia selalu merasa apapun yang dilakukan oleh Karina menggemaskan, bahkan disaat kekasihnya itu mendengkur pun seperti sekarang ini, baginya Karina tetap menggemaskan, malah seribu kali lipat lebih menggemaskan dari biasanya.

Barra mengeratkan pelukannya kepada Karina. Pria itu mengecup puncak kepala Karina, dan dia pun mulai memejamkan matanya lalu ikut masuk menyusul Karina ke alam mimpi.


“Ayah.”

Sang ayah yang tengah fokus membaca koran di halaman belakang rumahnya pun langsung menutup korannya dan berbalik ke belakang, untuk melihat anak perempuannya yang paling cantik yang baru saja terbangun dari tidurnya,

“Eh anak ayah udah bangun. Sini nak.” ayah selalu memperlihatkan wajah bahagianya baik di depan Kaynara maupun di depan Jibran. Dia adalah ayah yang hebat dan yang paling baik yang pernah Kaynara miliki.

Kaynara melangkah masuk ke pekarangan belakang rumahnya. Dia duduk di bangku kosong yang ada di samping sang ayah,

“Ayah lagi baca apa?” Kaynara bertanya. Tanpa dijawab pun, dia sudah tahu jawabannya apa. Gadis itu hanya basa-basi saja.

“Koran.” jawab ayah, “kamu mau baca?” lelaki dengan tubuh kekar itu menawarkan. Kaynara langsung menggelengkan kepalanya tanda sebuah penolakan. Hal tersebut membuat hidung sang ayah berkerut bingung, “kok gak mau?” tanyanya lagi.

“Modern gini cape cape baca di koran, mending baca di handphone.”

Ayah terkekeh pelan, tangannya ia gunakan untuk mengacak-acak rambut Kaynara—membuat gadis itu mendecak sebal dan langsung membenarkan kembali rambutnya yang dibuat berantakan oleh sang ayah,

“Dasar anak muda ya, mentang-mentang semuanya udah modern ninggalin deh tuh yang konvensional.” sindir sang ayah langsung kepada Kaynara.

“Gak apa-apa, perkembangan informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.”

“Iya iya.” ayah melanjutkan ucapannya, “gimana? Udah merasa baikan sekarang?”

Kaynara terdiam. Tadi malam, dia merasa positif kalau dia sudah lebih baik perasaannya, namun, ketika ayahnya bertanya seperti ini, membuat Kaynara berpikir, apakah dia benar-benar sudah merasa lebih baik, atau dia hanya pura-pura merasa lebih baik?

“Hei.” ayah menyadarkan Kaynara dari diamnya. Gadis itu menatap sang ayah dengan tatapan polos, “kamu ditanyain kok malah ngelamun.”

“Enggak ngelamun itu, aku kan baru bangun tidur, wajar lah agak daydreaming sebentar.” kilah Kaynara. Semakin hari kemampuan berbohong Kaynara semakin terasah, “ayah, Kay mau nanya deh sama ayah. Boleh kan?”

“Boleh dong nak. Masa anaknya mau nanya dilarang-larang sama ayah. Ayo mau nanya apa?”

“Dulu, waktu ayah sama ibu pacaran, ayah pernah bikin ibu sakit hati gak?”

Tanpa perlu berpikir panjang, ayah langsung menjawab pertanyaan Kaynaran dengan anggukan kepala,

“Dulu, waktu ayah masih jadi pacar ibu, ayah brengsek banget nak.” Kaynara terdiam, membiarkan sang ayah melanjutkan kisahnya, “ayah sering main perempuan, sering beberapa kali tidur sama perempuan juga, tapi ya gitu cinta ayah cuma buat ibu.”

Kaynara tertegun, bagaimana bisa kisahnya mirip seperti kisah ibunya? Apa ini karma yang harus dia tanggung dari sikap bejat sang ayah di masa lalu?

“Ibu diem aja?”

Ayah menggeleng, “enggak ada perempuan yang diem aja waktu laki-lakinya nyeleweng nak. Ibu beberapa kali berontak, dan ngancem untuk putus, tapi ayah tahan, karena ayah gak mau kehilangan ibu. Ayah sayang sekali sama ibu kamu. Bahkan kalau ayah harus tukar nyawa ayah demi kebahagiaan ibu kamu, ayah rela nak. Demi Tuhan ayah rela.”

“Apa ibu sama ayah sempet putus?”

“Iya, sempet. Waktu itu kesalahan ayah udah gak bisa ditolerir lagi, ya sebenernya semua kesalahan ayah nggak bisa ditolerir juga, tapi untuk yang kali ini, bener-bener gak bisa. Ayah gak bisa ceritain ke kamu, intinya parah sekali nak. Ibu kamu kabur hampir satu bulan ninggalin aya